Setelah membayar tiket masuk senilai Rp 10.000,- di pintu masuk, saya mulai melangkahkan kaki ke pelataran kompleks gedung bersejarah yang terletak di sisi timur bundaran Tugu Muda, Semarang. Meski saat itu waktu menunjukkan pukul 19.30 malam, sudah tidak tersisa lagi keangkeran yang dulunya akrab melekat dengan bangunan yang bernama Lawang Sewu tersebut. Sebaliknya, dengan cahaya lampu-lampu kuning yang terpancar dari dalam gedung, yang terasa justru kesan anggun dan megah, dengan sedikit sentuhan mistis.



Bagian depan bangunan Lawang Sewu

Ya, bekas kantor dari NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) yang selesai dibangun pada tahun 1907 silam ini awalnya memang terkenal sebagai tempat yang angker. Bahkan, salah satu program reality show juga pernah mengadakan kegiatan uji nyali di sana, yang berujung pada menyerahnya peserta pasca melihat penampakan mirip kuntilanak (wanita berambut panjang) di salah satu ruangan di lantai bawah. Area bawah tanah gedung tersebut memang kabarnya telah banyak menghadirkan fenomena mistis. Terutama di bagian penjara jongkok dan penjara berdiri, dimana dulunya banyak tahanan yang mati karena tidak tahan disiksa.

Ruangan tempat diadakan uji nyali (sumber: Wikipedia)

Beberapa tahun belakangan, Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero memang telah melakukan konservasi dan revitalitasi terhadap bangunan-bangunan gedung Lawang Sewu. Lantai dasar kini dialihfungsikan menjadi museum, yang memperkenalkan kepada pengunjung mengenai sejarah panjang melalui beraneka foto masa lalu, miniatur kereta api, artefak kuno, hingga gerbong kereta api sungguhan. Sementara itu, lantai 1, yang pada jaman dahulu mayoritas digunakan sebagai ruangan tidur, tetap dibiarkan kosong, walau kini pengunjung sudah bebas untuk menjelajahinya.

Kebanyakan akses ke lantai 3 pada saat saya berkunjung ke sana masih ditutup. Tapi ada satu yang terbuka, dan sepertinya menuju ke hall untuk berdansa. Dengan mempertimbangkan kondisi ruangan yang terlihat nyaris gelap total dan saya tidak sedang ditemani oleh pemandu, rasanya bukan hal bijak untuk menjelajahinya seorang diri. Bukan apa-apa, meski sudah tidak lagi bernuansa horor, tapi di beberapa ruangan di lantai dasar saya tetap merasakan ada ‘sesuatu’ di sana. Untuk lantai bawah tanah sendiri pada saat artikel ini ditulis masih dalam tahap renovasi sehingga belum dibuka kembali untuk umum.

Fun Fact: Meski Lawang Sewu berarti “seribu pintu”, jumlah pintu di kompleks bangunan Lawang Sewu tidak benar-benar berjumlah seribu. Masyarakat memberikan julukan tersebut karena melihat banyaknya pintu di sana, ditambah dengan keberadaan jendela-jendela berukuran besar yang sekilas memang terlihat sebagai pintu.

Pun begitu, tidak perlu kecewa dengan akses yang masih terbatas. Berbagai sudut bangunan Lawang Sewu menawarkan keindahan dan keanggunan tersendiri. Sangat instagramable, terkhusus di malam hari. Beberapa spot malah menyajikan kesan romantis, yang mungkin tidak terbayang bakal bisa disuguhkan oleh bangunan yang menjadi saksi bisu peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang pada tanggal 14-19 Oktober 1945 silam. Di gedung tua inilah terjadi pertempuran hebat antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Tugu Muda yang berada di depan Lawang Sewu sendiri merupakan monumen yang dibangun untuk memperingati peristiwa tersebut.

Dengan nilai sejarah yang tinggi plus nuansa mistis yang dibalut spot selfie instagramable, tidak salah jika Lawang Sewu menjadi destinasi wisata wajib bagi TreplingLopers yang berkunjung ke Semarang. Setuju?

Informasi dan Peta Lokasi

Nama: Lawang Sewu
Alamat: Komplek Tugu Muda, Jl. Pemuda, Sekayu, Semarang Tengah, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50132
HTM: Rp 10.000,- (dewasa) / Rp 5.000,- (anak-anak), Rp 30.000,- (pemandu)
Jam Buka: 08.00 – 21.00

Tema artikel yang berhubungan: ,