Terletak di tengah area Namba dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari kawasan Dotombori yang menjadi surga belanja di Osaka, Base Point Hostel bisa dibilang merupakan alternatif akomodasi yang memiliki lokasi super strategis. Letaknya memang masuk ke dalam gang, tapi tidak jauh, mungkin sekitar 10 meter saja. Begitu keluar gang? Deretan restoran, tempat hiburan, toko duty free, dan jajanan kaki lama sudah menanti. Bahaya deh pokoknya kalau menginap di sini dan hanya bawa duit pas-pasan, hehehe.



Ya, jika di Tokyo saya sempatkan menginap di hostel ternama yang sama sekali bukan gaya traveling saya, di Osaka saya melakukan yang sebaliknya. Hari-hari terakhir di Jepang saya habiskan di salah satu spot favorit untuk menginap: di tengah area yang hidup selama 24 jam. Dan Base Point Hostel jawabannya.

Masih tentang lokasi, hostel yang berdiri sejak bulan Juli 2012 lalu ini hanya berjarak beberapa menit saja dari stasiun Namba. Bisa dibilang letaknya di antara Dotombori, Shinsaibashi, dan jajaran mall Namba (Namba City, Namba Park, dll). Suer, bakalan bingung mau ngehabisin waktu ke sebelah mana kalau menginap di sini, walau tujuan utama saya sebenarnya bukan untuk shopping. Nanti deh dibahas di artikel terpisah.

Sekarang kita obrolin hostel Base Point-nya terlebih dahulu. Secara keseluruhan, bangunannya memang bisa dibilang agak sempit dan tidak terlalu luas. 4 meter saja mungkin lebarnya. Resepsionis dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sehingga tidak ada masalah dalam hal check-in maupun check-out. Kamar dorm untuk pria berada di lantai 3, sementara untuk wanita berada di lantai 2. Tidak ada lift, karena ruang bekas lift sudah diubah menjadi kamar mandi! Sayangnya, hanya ada sebiji kamar mandi dan sebiji toilet di tiap lantai, yang masing-masing ditempati oleh sekitar 8 orang tamu. Untungnya pada saat saya menginap hanya terisi separuhnya saja dan semuanya hobi pulang malam bangun siang, jadi tidak ada kendala dalam menggunakan kedua fasilitas tersebut di pagi maupun malam hari.

Masih tentang toilet dan kamar mandi, secara pribadi saya merasa kurang nyaman dengan keduanya. Pertama, terlalu sempit. Kedua, meski bermodel western, WC masih versi ‘biasa’, alias tidak ada penyemprot air otomatis. Ketiga, terlalu sempit. Sengaja saya sebut dua kali karena benar-benar terasa sesak. Di hari pertama saya bahkan memilih untuk mandi di pemandian umum Namba Sento karena ingin merasakan yang hangat-hangat (air maksudnya) dengan suasana yang lebih nyaman.

Baca juga  Review Araya Homestay, Pacitan, Jawa Timur

Oh ya, tidak disediakan handuk di sini. Karena kanebo (iya, saya bawa kanebo untuk handuk) saya ketinggalan di hostel sebelumnya di Kyoto, terpaksa saya membeli handuk sapu tangan kecil di Daiso. Lumayan, cuma ¥100. Tapi untuk sabun cair dan shampoo tersedia kok. Juga ada hair dryer untuk mengeringkan rambut usai mandi.

Di masing-masing lantai terdapat loker untuk menyimpan barang berharga. Apes, loker yang saya dapatkan kuncinya rusak. Untung tidak pergi sendiri, jadi bisa nitip tablet dan portabel HDD di loker temen saat berkeliling Osaka. Berat bro kalau harus bawa keduanya, hehehe.

Tempat tidurnya sendiri berupa tempat tidur tingkat. Di tiap lantai terdapat dua ruangan, dan di masing-masing ruangan terdapat beberapa tempat tidur tingkat. Ada AC yang bisa kita request untuk dinyalakan dengan suhu dingin (apabila kepanasan) atau suhu hangat (apabila kedinginan) secara gratis. Untuk ruangan bagian dalam cukup lega dan terdapat meja, cermin, dan gantungan baju. Jika menginap di sana, berdoa sajalah supaya mendapat jatah ruangan bagian dalam 🙂

Fasilitas lain ada akses nirkabel gratis, common room, serta dapur. Dua yang disebut terakhir terletak di ruangan yang sama, sehingga agak sempit dan tidak terlalu nyaman. Wajar jika jarang ada yang memanfaatkan kedua fasilitas tersebut selama saya menginap. Ada pula vending machine plus meja dan kursi untuk cangkruk di bagian depan hostel. Saya sempat mencobanya dan ternyata seru juga malam-malam duduk di sana sambil mengamati ratusan manusia bersliweran di depan gang sembari menikmati seporsi takoyaki yang dijual oleh kakek-kakek di ujung gang. Isi tujuh biji hanya ¥280 saja. Murah!

Overall, fasilitas yang ditawarkan Base Point Hostel mungkin bukan yang terbaik. Tapi jika rekan-rekan TreplingLopers hanya membutuhkan tempat untuk tidur yang berlokasi strategis, hostel inilah pilihan yang saya rasa terbaik. Apalagi jika Osaka menjadi kota terakhir di Jepang sebelum bertolak kembali ke Indonesia, karena jalur Nankai yang menuju bandara internasional Kansai (KIX) letaknya tidak jauh dari akomodasi ini. Lumayan kan tidak perlu jauh-jauh geret-geret koper?

Info Detil dan Peta

Nama: Base Point Hostel Osaka
Alamat: Jepang, 〒542-0074, 大阪府大阪市Chūō-ku, Sennichimae, 2 Chome−11, 中央区千日前2丁目11−17
Biaya: Mulai Rp 250.000,- – Rp 350.000,- per malam untuk kamar dorm (pesan kamar atau cek harga terbaru)

Galeri Foto

Diambil dari Agoda, saya kebetulan tidak sempat mengambil foto karena posisi lebih banyak di luar hostel selama di Osaka 🙂

Tema artikel yang berhubungan: ,