Terletak di dekat BTS Saladaeng dan MTS Si Lom, Thrive The Hostel merupakan sebuah penginapan yang memiliki lokasi strategis. Terlebih dengan adanya night market yang hanya berjarak 200 meter dari TKP. Meskipun tidak ada restoran di kiri kanannya, namun dekat dengan BTS dapat ditemui berbagai rumah makan, termasuk KFC dan Pizza Hut. Bagi yang suka leyeh-leyeh di sauna, terdapat pula Men Factory Sauna (khusus laki yah), yang sedikit nyelip di dalam gang tempatnya, masih dalam jangkauan walking distance.

Gara-gara info Google Maps yang tidak akurat, kedatangan saya ke Thrive The Hostel untuk pertama kalinya sempat bikin bete. Mengira lokasinya lumayan jauh dari pintu keluar BTS — sedangkan paginya saya baru saja tiba dari Phuket menggunakan bus malam dan langsung mengeliling Grand Palace – Wat Po – Wat Arun – Siriraj Hospital — maka saya memilih menggunakan ojek yang berkeras mematok harga 30 baht. Tidak sampai 5 menit berkendara ternyata sudah sampai di Thrive 😐

Faktanya, dari pintu keluar BTS (lupa exit nomer berapa), kita tinggal masuk ke dalam gang di dekat tangga BTS, belok kanan, belok kiri, nyampe deh. Sekitar 200-300 meter saja.

Saya menginap di kamar single bed tipe standard. Konsep yang diusung sepertinya bangunan tua / gudang, karena… lihat sendiri deh di gambar-gambar berikut ini.

Wastafel

Wastafel

Kamar mandi

Kamar mandi

Tempat tidur

Tempat tidur

Padahal kata thrive sendiri jika diartikan adalah “sudah berkembang”, jadi agak bertentangan dengan kenyataan di lapangan. Untung sudah biasa menginap di tempat yang lebih parah dari ini, so it’s okay lah. Hanya agak sayang aja uangnya karena overpriced kalau menurut saya dari segi kamar.

Baca juga  Review Hotel RaBaSTa Kuta Beach Inn, Bali

Fasilitas kamar cukup lengkap. Tersedia balkon yang sayangnya kuncinya tidak berfungsi, sehingga pastikan untuk tidak meninggalkan barang berharga di kamar. Tapi itu belum seberapa sih. Di malam harinya, setelah makan malam dan sedang bersantai di kamar, tiba-tiba ada orang — cewek, sepertinya karyawan hostel — yang nyelonong masuk begitu aja! Padahal kunci sudah menggunakan model kartu akses (keycard), tapi ia bisa membukanya. Untung aja pada saat itu saya sedang duduk di tempat tidur yang berhadapan langsung dengan pintu, sehingga begitu ia masuk dan terkaget melihat saya, ia langsung ngacir keluar lagi.

Berhubung saat check-in sepertinya staff hostel tidak terlalu mahir berbahasa Inggris, saya memilih untuk tidak komplain ke pihak hostel, daripada ujung-ujungnya tambah bete gara-gara miskomunikasi. Tapi pengalaman buruk saya ini sudah saya sertakan dalam review saya di Tripadvisor (sedang dalam proses menunggu persetujuan publikasi saat artikel ini ditulis, nanti saya updet linknya jika sudah disetujui).

Overall, Thrive The Hostel unggul dalam segi lokasi yang sangat strategis. Tapi dari sisi kenyamanan dan keamanan, penginapan ini sangat tidak disarankan. Pintu balkon yang tidak dapat dikunci? Staff hostel yang masuk begitu saja tanpa permisi? Dua alasan itu saya rasa sudah cukup sebagai alasan untuk tidak mengulangi kesalahan saya menginap di tempat ini.

Review @ Tripadvisor

Tema artikel yang berhubungan: ,