Maraknya traveler Indonesia yang bepergian ke luar negeri membuat banyak orang yang belum pernah jalan-jalan ke luar wilayah Indonesia menjadi penasaran dan pengen ikutan. Bagi yang memang belum pernah, kendala utamanya adalah rasa takut tidak tahu apa yang harus dilakukan, baik dari segi persiapan, maupun saat berada di negara tujuan. Padahal, meski butuh beberapa persiapan ekstra, melancong ke negara lain tidak ubahnya dengan kita traveling ke provinsi lain di Indonesia. Bedanya? Jika di provinsi lain kita disambut dengan bahasa daerah, di luar negeri kita bakal disambut dengan bahasa asing, hehehe.



Kali ini Trepling.XYZ coba menyajikan panduan lengkap bagi teman-teman TreplingLopers yang keinginan untuk jalan-jalan ke luar negeri-nya sudah membuncah, tapi masih bingung apa saja yang harus disiapkan.

Buat Paspor

Paspor atau epaspor adalah dokumen wajib yang harus kita miliki apabila kita hendak bepergian ke luar negeri. Karena masa berlaku paspor cukup panjang, yaitu 5 tahun, maka tidak ada salahnya apabila kita mengurus pembuatan paspor terlebih dahulu meski belum menentukan tujuan traveling kita. Tujuannya adalah apabila tiba-tiba ada tiket promo dengan jadwal keberangkatan yang mepet, kita bisa langsung cuss berangkat tanpa harus pusing memikirkan persiapan paspor. Alasan lain adalah karena durasi pembuatan epaspor yang terkadang meleset dari jadwal normal (2 minggu), sehingga mempersiapkannya jauh-jauh hari jelas lebih disarankan.

Selain itu, untuk kebanyakan destinasi, kita juga diwajibkan untuk mengurus VISA terlebih dahulu. Yang ini waktunya pun bervariasi, tergantung dari kedubes negara yang bersangkutan. Mulai dari 2 hari hingga 1 bulan. Nah, jelas kan pentingnya memiliki paspor terlebih dahulu?

Baca juga: Tata Cara Pembuatan Paspor Lengkap

Pilih Negara Yang (Indonesian) Tourist-Friendly

Bagi yang baru pertama kali ingin melancong ke luar negeri, sebaiknya pilih negara-negara yang relatif mudah dan bersahabat bagi turis asal Indonesia. Untuk saat ini, pilihannya ada tiga, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berikut alasannya.

Singapura
– Hampir semua obyek wisata memiliki akses transportasi masal
– Jalur MRT / LRT (moda transportasi masal) mudah dipahami
– Bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris sederhana. Banyak juga yang bisa berbahasa Melayu.
– Makanan halal mudah didapat. Jika pemilik / pelayan rumah makan tahu kita muslim, tanpa ditanya (biasanya) mereka juga akan memberitahu kita apabila makanan / minuman mereka tidak halal.
– Aman / tindak kriminal minimal

Malaysia
– Hampir semua obyek wisata memiliki akses transportasi masal
– Jalur MRT / LTR mudah dipahami
– Banyak pilihan transportasi untuk berpindah antar kota dengan harga terjangkau
– Komunikasi dengan bahasa Melayu
– Banyak makanan halal (Indonesia, Malay, atau India)
– Aman / tindak kriminal minimal

Thailand
– Jalur bus dalam kota agak membingungkan (masih menggunakan bahasa Thailand), tapi jalur MRT / LTR mudah dipahami
– Ada opsi transportasi dengan menggunakan tuk-tuk atau ojek
– Banyak pilihan obyek wisata yang tersebar di berbagai penjuru negara
– Banyak minimarket yang menyediakan (frozen) makanan halal

Secara pribadi, kami menyarankan untuk setidaknya bepergian ke Malaysia atau Singapura terlebih dahulu bagi yang belum pernah traveling ke luar negeri sama sekali. Di dua negara tersebut — yang juga bisa dikunjungi dalam satu itinerari — kita bisa beradaptasi dengan kehidupan di luar negeri, terutama cara membaca dan memahami peta / jalur transportasi masal. Agar nanti tidak kagok saat menghadapi jalur MRT / LRT yang lebih rumit seperti di Jepang misalnya.

Menyusun Itinerari

Cara paling mudah dalam menyusun itinerari adalah dengan mencari referensi di internet (forum, group, blog) dan meniru atau memodifikasinya. Kita juga bisa menduplikasi itinerari milik penyedia jasa tour di negara yang bersangkutan karena biasanya mereka sudah membuat itinerari yang efektif (agar tidak rugi waktu dan biaya). Yang paling penting, tentukan itinerari sesuai dengan minat dan gaya kita dalam berlibur, agar perjalanan kita menjadi lebih maksimal dan pengalaman yang didapat juga lebih berkesan. Tidak usah memaksakan menuju tempat-tempat yang sedari awal kita tidak merasa nyaman berada di sana. Pasar ikan Tsukiji yang tersohor di Tokyo misalnya. Karena namanya juga pasar ikan, sudah pasti akan tercium bau khas ikan di sana. Yang tidak tahan atau jijik dengan bau-bau semacam itu, mending ya coret saja dari daftar itinerari.

Lebih detil mengenai penyusunan itinerari akan kami bahas nanti di artikel tersendiri.

Persiapan Hotel / Penginapan

Ada yang senang go show (cari hotel nanti saat sudah berada di negara tujuan), ada juga yang senang memesan terlebih dahulu sebelum berangkat. Apapun pilihan kita, jangan sampai merugikan kenyamanan kita dalam ber-traveling nantinya. Go show di saat waktu liburan atau reservasi tanpa mempelajari lokasi misalnya. Salah satu solusi adalah memanfaatkan fasilitas ‘bayar belakangan’ dan ‘bebas pembatalan’ yang disediakan oleh beberapa layanan reservasi hotel, seperti Booking.Com.

Lebih detil mengenai tips mencari dan memesan hotel atau penginapan akan kami bahas nanti di artikel tersendiri.

Persiapan Bawaan

Apa saja yang harus dibawa apabila kita hendak bepergian ke luar negeri? Jawabannya tentu tentatif tergantung dari gaya traveling masing-masing. Tapi secara umum ada beberapa yang perlu diperhatikan, yaitu:
– Jangan membawa cairan melebihi 1 liter. Selain itu, ukuran 1 wadah cairan paling besar adalah 100 ml. Ini termasuk shampoo, sabun cair, minuman, dan sejenisnya. Ini peraturan umum internasional ya, tidak bisa dikompromi dan tidak perlu cari cara untuk mengakalinya 🙂
– Beberapa bandara keberangkatan TIDAK memperbolehkan kita membawa tongsis / selfie stick ke dalam kabin. Sama dengan di atas, aturan ini sebenarnya aturan internasional, namun untuk pelaksanaannya masih bersifat independen alias tergantung bandara yang bersangkutan. Untuk di Indonesia, yang sudah pasti tidak boleh adalah Bandara Juanda dan Bandara Soekarno-Hatta. Jika ingin membawanya, sebaiknya dimasukkan ke dalam bagasi atau tanyakan dahulu pada petugas bandara yang bersangkutan.
– Beberapa bandara SANGAT KETAT dalam menerapkan aturan ukuran ransel / tas / koper yang dibawa ke dalam kabin, baik dari segi berat maupun ukuran. Jadi hindari membawa barang-barang yang memang tidak kita perlukan, kecuali kalau tiket kita sudah mencakup biaya bagasi tentunya.
– Kumpulkan barang-barang yang sejenis dalam satu wadah tas / plastik tersendiri.
– Meski bisa mengambil uang melalui ATM di negara yang bersangkutan, tidak ada salahnya untuk menukarkan sebagian uang saku kita ke mata uang negara tersebut terlebih dahulu sebelum kita berangkat. Ini akan menghindarkan kita dari masalah apabila terkena random check di imigrasi.
– Bawa dokumen-dokumen yang berhubungan. Seperti print-out booking hotel, print-out reservasi tiket (termasuk tiket pulang), fotokopi paspor (untuk berjaga-jaga apabila paspor hilang), itinerari, dan sebagainya.

Baca juga  Tata Cara Mengurus Visa Ke Jepang (Update 2017)

Persiapan Keluar / Masuk Imigrasi

Pada saat meninggalkan Indonesia, biasanya proses imigrasi berlangsung lancar. Kecuali jika Anda masuk dalam daftar DPO atau dicurigai masuk dalam daftar DPO, hehehe. Yang sering dicek ulang pada saat melalui mesin X-Ray adalah wadah-wadah cairan, untuk memastikan ukurannya sudah sesuai aturan. Ini salah satu alasan sebaiknya barang-barang tersebut dimasukkan ke dalam satu tas / plastik tersendiri, agar gampang mengaksesnya pada saat diminta.

Yang agak tricky adalah pada saat kita melewati imigrasi untuk masuk ke negara tujuan traveling. Terlebih apabila paspor kita masih fakir stempel. Beberapa yang perlu diperhatikan adalah:
– Tetap tenang dan jawab pertanyaan petugas imigrasi dengan santai dan sejujurnya.
– Siapkan dokumen pendukung (booking hotel, booking tiket pulang, itinerari, uang dengan mata uang negara bersangkutan, dan sejenisnya) di tempat yang mudah diakses karena bisa saja petugas imigrasi memintanya. Untuk booking tiket pulang bisa juga langsung diselipkan di dalam paspor agar mereka yakin kita bakalan balik ke Indonesia.
– Isi form kedatangan imigrasi dengan jelas dan lengkap. Apabila belum memesan hotel untuk menginap, isi dengan sembarang nama hotel yang ada di negara yang bersangkutan. Jangan sampai ada yang kosong lah intinya.
– Jika menggunakan kacamata dan topi, jangan lupa untuk langsung dilepas di hadapan petugas imigrasi. Kalau bisa jangan sampai disuruh, agar kelihatan kalau sudah paham aturan 🙂

Pada dasarnya sih selama kita bisa menunjukkan bahwa kita tidak berniat macam-macam di negara tersebut, serta pasti bakal balik lagi ke negara asal, petugas imigrasi tidak akan ragu untuk memberikan cap stempel. Saya sendiri baru sekali saja bermasalah dengan petugas imigrasi. Itu pun tidak jelas alasannya, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya gara-gara waktu itu saya masuk bersamaan dengan rombongan calon TKI. Alhasil ketika isian form kedatangan imigrasi saya berbeda dengan mereka, saya pun jadi dicurigai, hehehe.

Terkait dengan imigrasi, ada yang namanya pemeriksaan acak atau random check. Hal ini dilakukan apabila petugas imigrasi mencurigai kita berniat untuk tinggal lebih lama dari waktu yang ditentukan. Untuk bekerja secara ilegal misalnya. Jika kita mengalami hal tersebut, tetap tenang dan jawab pertanyaan yang diajukan dengan jujur. Saya ulangi di sini, SANGAT PENTING untuk sedari awal menyiapkan bukti pemesanan tiket pulang kembali ke Indonesia (atau tiket keluar dari negara tersebut, apabila lanjut ke negara lain), serta bukti uang saku kita (lebih utama dengan mata uang negara yang bersangkutan).

Bagaimana pada saat masuk kembali ke Indonesia? Sama saja dengan pada saat keluar, tidak terlalu ribet sebenarnya. Bahkan lembar kedatangan imigrasi hanya diserahkan pada petugas keamanan, bukan pada petugas imigrasi. Yang sering menjadi momok adalah di bagian bea cukai, dimana sering beredar berita barang bawaan / oleh-oleh dari luar negeri yang dihantam dengan bea masuk tinggi.

Poin di bagian ini sebenarnya ada tiga, yaitu (1) Apakah harga barang melebihi $250; (2) Apakah barang ber-merk atau branded; dan (3) Apakah barang untuk dijual kembali. Untuk nomer tiga, pada umumnya kita bisa mengakali dengan cara membuka segel / bungkusnya, untuk menunjukkan bahwa barang tersebut akan kita gunakan sendiri. Kotak barang juga sebaiknya tidak dibawa / ditinggal saja. Sedang untuk nomer satu dan dua, selama barang branded yang kita beli tidak melebihi harga $250 (nota pembelian harap disimpan), maka kita tidak akan dikenai pajak masuk dari bea cukai.

Bagaimana kalau memang harganya melebihi $250? Yah, bisa dicoba dengan cara mengakali poin tiga di atas, tapi tetap bersiap-siap kalau akhirnya ketahuan dan harus bayar pajak, ya 🙂 Gak usah terus ngomel-ngomel di sosmed, karena memang sudah peraturannya seperti itu, hehehe.

Stay Cool, Stay Safe

Seaman-amannya negara yang kita kunjungi, tidak ada salahnya untuk tetap waspada dan berhati-hati. Ribet loh urusannya kalau sampai duit atau paspor kita hilang di negeri orang. Beberapa tipsnya adalah sebagai berikut:
– Hindari bergaya secara berlebihan. Ingat, kita sedang jalan-jalan, bukan sedang fashion show, hehehe. Pilih pakaian yang nyaman buat beraktivitas.
– Jika ingin merasakan sensasi dan pengalaman yang berbeda, berpakaianlah ala penduduk lokal. Alias jangan menggunakan pakaian atau aksesori ala turis (kacamata hitam, tas ransel, tas pinggang, dll) saat berjalan-jalan. Nikmati serunya akses masuk obyek wisata ala lokal (gratis atau biaya lebih murah), diperlakukan seperti penduduk lokal oleh penduduk lokal dan bahkan oleh turis lain, dan berbagai pengalaman seru lainnya. FYI, ini juga sekaligus menghindarkan kita dari ancaman scam / penipuan terhadap turis yang banyak ditemui di berbagai negara.
– Masih terkait scam, hindari orang-orang yang sok kenal / sok akrab dan fasih berbahasa Inggris. Biasanya mereka adalah penipu yang sedang mencari mangsa. Jangan juga percaya begitu saja pada orang yang mengaku seiman / seagama dengan kita. Bagi kita mungkin hal semacam itu sakral dan tidak pantas dijadikan alasan untuk menipu, tapi ingat kita sedang berada di negeri orang, bukan di negeri sendiri.
– Masih juga terkait scam, sangat disarankan untuk mempelajari terlebih dahulu obyek-obyek wisata yang hendak kita kunjungi. Banyak scammer atau penipu yang memanfaatkan ketidaktahuan turis terhadap suatu obyek wisata untuk menipu mereka. Di Bangkok misalnya, yang paling sering adalah penipuan dengan mengatakan bahwa Grand Palace ditutup. Padahal yang ditutup adalah gerbangnya saja (untuk akses Grand Palace hanya ada 1 gerbang yang dibuka), hehehe.
– Kebanyakan dari kita sering mati gaya apabila tidak mendapat akses internet. Untungnya, kartu perdana dengan paket internet mudah ditemui di negara lain. Harganya juga relatif terjangkau. Pilihan lain adalah dengan menggunakan layanan XL Pass dari provider XL, layanan roaming paket internet dengan biaya masuk akal (dibandingkan provider lainnya pada saat artikel ini ditulis).


Bagaimana, TreplingLopers? Jadi bersemangat untuk pergi ke luar negeri? 🙂 Semoga tips-tips di atas bisa bermanfaat ya 🙂

Salam Trepling!

Tema artikel yang berhubungan: ,  lokasi money changer di jambimoney changer di jambi.