Kyoto (京都) adalah salah satu dari tiga kota besar di Jepang yang umum didatangi oleh para wisatawan, selain kota Tokyo dan juga Osaka. Kota yang memiliki banyak kuil ini bahkan pernah menjadi ibukota Jepang pada periode tahun 794 hingga 1868. Saat ini, Kyoto merupakan kota terbesar ketujuh di Jepang dengan jumlah populasi sebanyak 1.4 juta jiwa. Uniknya, kota ini selamat dari peristiwa bom nuklir pada saat Perang Dunia II karena memiliki nilai sejarah yang tinggi sehingga tidak dimasukkan ke dalam daftar target.



Berbeda dengan Tokyo dan Osaka, moda transportasi bus lebih dominan dan umum digunakan di Kyoto ketimbang kereta api. Ini disebabkan oleh jalur kereta api yang terbatas serta lokasi stasiun yang relatif jauh dari obyek-obyek wisata. Dengan demikian, wajar sekiranya bus menjadi pilihan yang paling baik untuk menjelajahi sudut-sudut kota Kyoto.

Menghemat Ongkos Dengan Day Pass

Kebanyakan bus di Kyoto menggunakan tarif flat, yaitu ¥230 (atau ¥120 untuk anak berusia 6-11 tahun). Namun ada sebagian jalur bus yang menggunakan tarif berbeda, tergantung dari frekuensi perjalanan bus yang bersangkutan di jalur tersebut. Untuk membedakannya, perhatikan nomer bus yang ada di papan petunjuk halte maupun di badan bus, baik di bagian depan maupun bagian samping. Untuk bus dengan tarif non-flat, nomer bus tertulis dengan warna hitam dan latar belakang putih. Lainnya adalah untuk bus dengan tarif tetap.

Deretan bus kota Kyoto, perhatikan nomer 26 yang ada di pojok kanan atas

Dengan biaya sekali jalan yang tidak murah, menggunakan Bus Day Pass merupakan salah satu alternatif cara untuk berhemat. Apalagi jika kita memang ingin blusukan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain selama berada di Kyoto. Pilihannya ada dua, yaitu Kyoto Bus One-Day Pass atau Kyoto Sightseeing One/Two-Day Pass. Apa bedanya?

Untuk Kyoto Bus One-Day Pass, kartu seharga ¥500 (atau ¥250 untuk anak-anak) ini dapat digunakan untuk naik bus dengan tujuan yang masih ada dalam area Flat-Fare Zone. Di luar itu, ada biaya tambahan yang harus dibayar. Area Arashiyama, Sagano, Takao, dan Shugakuin misalnya merupakan beberapa area yang tidak termasuk dalam area Flat-Fare Zone.

Untuk Kyoto Sightseeing One/Two-Day Pass, kartu ini selain dapat digunakan untuk naik bus dengan jangkauan area tujuan yang lebih luas, juga dapat digunakan untuk menggratiskan biaya naik subway. Biayanya adalah ¥1,200 untuk durasi 1 hari (24 jam) atau ¥2,000 untuk durasi 2 hari (48 jam). Untuk anak-anak biayanya adalah separuhnya.

Kyoto Sightseeing Pass

Untuk menentukan apakah kita membutuhkan pass atau tidak caranya mudah saja. Jika selama satu hari kita harus naik bus lebih dari 2 kali, sudah pasti kita membutuhkan setidaknya Bus One-Day Pass. Jika sampai 5 kali atau lebih, Sightseeing Pass pilihannya.

Mengetahui Nomer dan Jalur Bus

Berdasarkan pengalaman saya selama di Kyoto, di hampir semua halte terdapat tabel jalur bus (yang melewati halte tersebut) beserta nomer busnya. Selain itu, terdapat pula papan informasi yang menunjukkan posisi bus yang bersangkutan di 3 halte terdekat. Dengan demikian, kita tidak saja bisa dengan mudah mengetahui nomer bus yang harus kita tumpangi, melainkan juga bisa bersiap-siap apabila bus tersebut sudah meluncur dari halte terdekat.

Baca juga  Cara Mengecek Status Permohonan Paspor

Bagi yang membeli kartu Kyoto Sightseeing Pass, kita akan mendapatkan peta sekaligus tabel jalur bus yang cukup berguna untuk menentukan jalur perjalanan kita serta nomer bus yang seharusnya ditumpangi. Nomer yang umum ditumpangi wisatawan karena melalui obyek-obyek wisata populer di antaranya adalah nomer 101, 102, 205, 59, dan 5.

Aturan Naik dan Turun Bus

Pintu masuk untuk bus-bus di Kyoto adalah di bagian tengah. Pembayaran ongkos dilakukan di bagian depan, sesaat sebelum melangkah melalui pintu keluar yang ada di depan. Di semua bus yang saya tumpangi terdapat layar monitor di bagian depan, sekaligus suara woro-woro, yang memberitahukan nama halte pemberhentian berikutnya. Jika kita ingin turun di halte tersebut, kita cukup menekan tombol bel yang ada di dekat kursi dan tiang yang tersebar di dalam bus.

Suasana di dalam bus, kotak berwarna kuning adalah tombol Stop

Apabila menggunakan kartu pass, pada saat hendak keluar, kita masukkan kartu tersebut ke dalam mesin tiket yang sudah tersedia di samping tempat duduk sopir. Mirip seperti saat kita menggunakan kartu pass untuk keluar masuk stasiun kereta. Terkadang sopir bus juga tidak mempersalahkan apabila kita hanya menunjukkan kartu tersebut ke hadapannya, tanpa memasukkannya ke dalam mesin.

Jadi, di hari pertama menggunakan pass, saya yang tidak tahu kalau ada mesin tiket di depan selalu saja menunjukkan kartu tersebut begitu saja kepada pak sopir. Alhasil, selama hari pertama, kartu saya sama sekali dianggap belum terpakai. Baru pada hari kedua pak sopir yang bersangkutan ngeh dan meminta saya untuk memasukkan kartu tersebut ke mesin tiket. Akibat ketidaktahuan ini, hari ketiga yang seharusnya sudah harus merogoh kocek untuk naik bus menjadi tetap free, hehehe.

Bagi yang tidak menggunakan kartu pass, kita tinggal menyerahkan uang sesuai dengan tarif ke kotak yang sudah tersedia di samping sopir. Setahu saya hampir semuanya tidak menyediakan kembalian, jadi wajib untuk menyiapkan uang pas. Untungnya, ada mesin penukar uang receh juga di depan.

Dapat disimpulkan, tata cara naik bus di Kyoto adalah sebagai berikut:
– Siapkan kartu pass atau uang sesuai tarif
– Tunggu di halte hingga bus tiba
– Tunggu hingga pintu tengah terbuka dan masuk ke dalam
– Jangan berdiri, kecuali jika memang tempat duduk sudah penuh. Beri prioritas tempat duduk pada lansia / ibu hamil / anak-anak. Tidak ada aturan tertulis mengenai hal tersebut di Jepang (beda dengan di Singapura atau Indonesia), tapi itu merupakan bagian dari etika mereka.
– Jika bus sudah menuju ke halte tujuan kita (petunjuk dari layar monitor atau suara speaker), tekan tombol bel yang ada di dekat kita.
– Tunggu hingga bus berhenti lalu melangkah ke depan dan bayar sesuai dengan langkah-langkah di atas.

Semoga panduan dan informasi sederhana ini bisa membantu teman-teman TreplingLopers agar lebih siap lagi dalam ber-traveling-ria di Jepang, khususnya Kyoto. Hepi Trepling!

Tema artikel yang berhubungan: ,