TreplingLopers, Kyoto adalah kota kedua yang saya singgahi selama traveling ke Jepang bulan Februari 2017 lalu. Kunjungan ke kota tersebut bisa terbilang singkat karena saya hanya menginap selama dua malam saja. Ini dikarenakan obyek wisata Kyoto yang kebanyakan berupa kuil. Meski betah berlama-lama di situs candi maupun kuil, tapi kalau seharian penuh melakukan temple-hopping ya bosan juga sih, hehehe. Perjalanan kali ini juga diwarnai perubahan itinerary dadakan, tragedi beberapa kali salah turun halte, over-budget gara-gara tergoda jajanan. Simak yuk keseruan lengkapnya di bawah ini.



Hari Ke-1

Dari Tokyo, saya dan teman saya tiba di kota Kyoto pada dini hari, sekitar pukul 05.00. Tidak tahu harus ngapain, kami mencoba untuk berjalan menuju stasiun, mencari restauran atau cafe yang sudah buka, sekedar untuk numpang ngopi hingga Tourist Information Centre dibuka (untuk membeli kartu Kyoto Sightseeing Pass). Apes, satu-satunya gerai yang baru saja buka, McDonalds, sudah langsung dipadati pengunjung. Saya hanya bisa memandang orang-orang yang asyik menikmati kopi hangat mereka sembari duduk santai dengan tatapan iri.

Setelah beberapa saat luntang-lantung di stasiun Kyoto, saya memutuskan untuk pergi menuju Nara dan melihat event Deer Gathering. Sejatinya, perjalanan ke Nara saya jadwalkan dari kota Osaka nanti. Namun daripada harus keleleran tidak jelas di stasiun Kyoto, sebaiknya dimanfaatkan untuk melihat rusa-rusa unyu.

Ada berapa rusa di sini?

Perjalanan menuju stasiun Kintetsu-Nara saya tempuh menggunakan kereta dari jalur Kintetsu-Kyoto Line. Ongkos tiketnya adalah ¥620. Untuk perjalanan balik juga menggunakan jalur yang sama, plus ongkos tiket yang sama pula. Di kota Nara, kami hanya mengikuti acara Deer Gathering dan langsung kembali ke Kyoto. Pengeluaran selama di kota tersebut hanyalah untuk membeli sebiji kartu Day Pass senilai ¥500.

Kembali ke stasiun Kyoto, yang pertama kita lakukan adalah membeli kartu Kyoto 2-Day Sightseeing Pass di kantor Tourist Information Center yang ada di dekat pintu keluar menuju terminal bus. Biayanya adalah ¥2,000. Dengan kartu ini kita bebas naik city bus serta kereta jurusan apa saja, selain bus dan kereta milik jaringan JR. Perlu diperhatikan, untuk area Arashiyama hanya gratis apabila menggunakan 2-Day Pass, sedang untuk 1-Day Pass tidak berlaku.

Kyoto Sightseeing Pass

Karena Kyoto adalah kota yang dijuluki kota 1000 kuil, sudah pasti itinerary dipenuhi dengan kunjungan ke kuil. Berturut-turut kami mengunjungi kuil Kinkaku-ji, Ryoan-ji, serta Tenryu-ji dan Bamboo Grove di Arashiyama. Belum apa-apa kami sudah nyasar gara-gara tidak melihat halte pemberhentian bus di Kinkaku-ji, hehehe. Alhasil balik lagi menuju ke kuil tersebut dengan berjalan kaki. Di Bamboo Groove pemandangannya ternyata begitu-begitu saja. Awalnya memang keren, tapi sepanjang perjalanan ya seperti itu terus suguhannya. Karena bosan, setelah melihat-lihat kuil Tenryu-ji, saya akhirnya memilih untuk balik kucing saja. Sepertinya lebih recommended untuk menjelajahi area Arashiyama ini dengan menggunakan becak (rickshaw) yang kalau dibagi dua harganya tidak seberapa mahal. Oh ya, di bagian depan ada persewaan kimono. Recommended juga untuk lebih merasakan nuansa jalan-jalan ala orang Jepang di sana. Suasananya cukup mendukung.

Penampakan Kinkakuji (Golden Pavilion)

Dari Arashiyama sebenarnya bisa kembali ke pusat kota dengan menggunakan bus atau kereta. Keduanya gratis. Tapi berhubung banyak yang menyarankan untuk naik Randen, alias kereta trem, kami pun menaikinya. Ini tidak termasuk dalam pass dan biayanya adalah ¥210. Randen sendiri merupakan moda transportasi tradisional Kyoto yang hanya tersisa satu jalur saja karena sudah terkikis oleh perkembangan jaman. Lumayan seru sih naik trem ini, karena sebagian melewati jalur yang sama dengan kendaraan roda empat lainnya. Pakai berhenti karena kena lampu merah segala pula, hehehe.

Jadwal selanjutnya adalah berjalan-jalan di area Gion. Karena sudah sore, kami memilih untuk check-in dulu di Tomato Guest House yang berjarak kurang lebih 800 meter dari stasiun Kyoto dengan berjalan kaki. Tarif menginap di hostel ini adalah ¥2,500 / malam atau total ¥5,000 untuk dua malam.

Tampak depan Tomato Guest House

Sialnya, saat malamnya hendak menuju Gion, hujan gerimis mendadak turun. Mau tidak mau acara dibatalkan dan diganti dengan berjalan kaki menuju konbini terdekat untuk membeli makan malam. Apalagi kalau bukan frozen food 🙂

Berikut rincian pengeluaran selama hari ke-1 di Kyoto, di luar makan dan belanja pribadi.

Kegiatan Biaya
Tiket PP Nara ¥1,240
Nara Day Pass ¥500
Kyoto Sightseeing Pass 2-Day ¥2,000
Naik bus #205 ke Kinkaku-ji -
Tiket masuk Kinkaku-ji ¥400
Naik bus #59 ke Ryoan-ji -
Tiket masuk Ryoan-ji ¥500
Naik bus #59 ke Arashiyama -
Tiket masuk Tenryu-ji ¥500
Naik Randen ¥210
Tomato Guest House (2 malam) ¥5,000
Total Pengeluaran ¥10,350

Hari Ke-2

Masih sama dengan hari pertama, di hari kedua kuil masih bisa destinasi utama. Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Fushimi Inari Taisha yang tenar akan deretan tiang-tiang berwarna merah oranye itu. Meski berangkat sudah cukup pagi, ternyata masih kurang pagi juga karena setibanya di sana sudah mulai padat pengunjung dan sulit untuk mendapatkan momen foto yang khusyuk.

Lorong Fushimi Inari Taisha

Selain tempatnya yang keren, godaan terbesar di Fushimi Inari Taisha sebenarnya adalah jajanannya. Berderet aneka makanan dari PKL yang mangkal sepanjang jalan menuju pintu masuk Inari Taisha. Saya tergoda untuk mencicipi Crab King, yang sedikit mengecewakan karena rasanya mirip bakso kepiting. Untung Takoyaki yang berikutnya dicoba cukup lezat di lidah.

Tujuan berikutnya adalah kuil Ginkaku-ji. Lagi-lagi godaan muncul di area kuil ini, aneka es krim rasa matcha yang merupakan salah satu kuliner andalan Kyoto. Dengan merelakan mahar ¥500 saya menjajal soft ice cream combo vanilla + matcha, dan memang benar, rasanya juara. Ditambah dengan cone yang bisa dinikmati (gak seperti cone es krim di Indonesia) serta porsinya yang gak pelit. Yummy!

Soft Ice Cream Combo Matcha Vanilla

Dari Ginkaku-ji sebenarnya bisa berjalan kaki menuju Nanzen-ji dengan menyusuri sungai di jalur Philosopher’s Path. Namun kondisi jalur tersebut di kala musim dingin dan bunga sakura masih belum nongol sama sekali tidak menarik. Setelah melihat-lihat peta, kami mencoba memilih jalur lain — naik bus terlebih dahulu dan turun di salah satu halte, sebelum lanjut berjalan kaki. Meski jarak tempuhnya tidak jauh berbeda, namun rute ini membawa kami melalui jalan-jalan perumahan, sekolah, dan obyek kehidupan masyarakat lainnya yang menarik untuk disimak. Tidak rugi sih.

Baca juga  6 Tempat Wisata Alam di Surabaya

Kuil Nanzen-ji yang letaknya agak tersembunyi ternyata cukup luas. Bahkan ada aqueduct (bahasa Indonesia-nya apa ya?) yang kabarnya baru diketemukan beberapa tahun lalu secara tidak sengaja. Ada beberapa area dalam kuil yang bisa dimasuki, yang sayangnya masing-masing berbayar. Kita bisa memilih untuk masuk dan naik ke dalam kuil atau menikmati keindahan taman. Berhubung di kuil tidak boleh memotret, saya memilih masuk ke tamannya saja.

Pemberhentian terakhir pada hari kedua sebenarnya adalah kuil Kiyomizudera. Tapi berhubung sudah lewat jam 16.30 dan menurut informasi kuil tersebut sudah tutup, maka diputuskan untuk berhenti di Gion dan berkeliling area tersebut sebelum akhirnya balik ke hostel. Malam itu juga kami baru menyadari adanya restoran halal Ramen Ayam-Ya yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari tempat kami menginap. Enak pula masakannya.

Tampak depan Ramen Ayam-Ya

Di area Gion bisa kita temui wanita-wanita geisha. Menarik memang untuk diabadikan, tapi ada baiknya untuk menjaga etika dan menghargai mereka dengan terlebih dahulu meminta ijin untuk memotret mereka. Jika tidak, sebaiknya foto dari belakang saja. Saya sedih sekaligus kecewa membaca pengalaman orang di grup jalan-jalan yang dengan BANGGAnya menceritakan bahwa ia berhasil memfoto geisha meski mereka sudah berusaha lari-lari menghindar. Marilah kita menjadi traveler yang bijak, bertanggung jawab, dan bisa menghargai budaya negara yang kita datangi.

Berikut rincian pengeluaran selama hari ke-2 di Kyoto, di luar makan dan belanja pribadi.

Kegiatan Biaya
Naik bus #5 ke Fushimi Inari Taisha -
Keliling Fushimi Inari Taisha -
Naik bus #5 ke Kyoto Station -
Naik bus #100 ke Ginkaku-ji -
Tiket masuk Ginkaku-ji ¥500
Jalan ke Nanzen-ji via Philosopher's Path -
Tiket masuk Nanzen-ji ¥500
Naik bus #100 ke Gion -
Keliling Gion -
Naik bus ke Kyoto Station -
Total Pengeluaran ¥1,000

Hari Ke-3

Jadwal hari terakhir di Kyoto tidak terlalu padat. Selain karena hari Jum’at dan terpotong kewajiban sholat Jum’at, juga sorenya bakal berpindah ke kota Osaka. Untungnya, kami baru menyadari bahwa kartu pass kami ternyata pada hari ketiga ini masih berlaku (padahal seharusnya tidak). Dan benar, setelah nekat mencoba dan siap-siap menahan malu apabila ternyata gagal, kartu pass tersebut benar-benar masih berlaku. Alhasil biaya transportasi di hari ketiga ini juga masih gratis, hehehe.

Destinasi pertama adalah Nijo Castle. Kami sempat salah turun di depan sebuah kuil Budha. Lupa namanya apa. Agar tidak rugi, sekalian saja foto-foto dulu di kuil tersebut, hehehe. Nijo Castle cukup luas, tapi bagi saya pribadi ‘nuansa kastilnya’ tidak terlalu terasa. Kayaknya kalau jaman dulu diserang langsung bakal bisa diambil alih oleh musuh. Di sisi lain, saat itu sedang ada study tour murid-murid SMP. Malah lebih seru melihat aktivitas mereka ketimbang jeroan kastil ini. Menurut saya pribadi loh.

Perjalanan selanjutnya adalah Imperial Palace. Ini lebih luas lagi dibanding Nijo Castle. Melihat penampakan bunga-bunga bermekaran di taman, entah bunga plum atau bunga sakura, kami lebih memilih untuk berjalan-jalan di taman dan mengabadikan bunga-bunga tersebut ketimbang masuk ke dalam istana. Pemilihan lokasi ini juga sudah disesuaikan dengan keberadan masjid イスラーム文化センター yang ada di dalam bangunan Islam Culture Center, sekitar 200 meter saja dari pintu keluar bagian timur Imperial Palace. Yang tidak disangka, masjid tersebut ternyata dipenuhi dengan orang Indonesia. Temboknya pun banyak berisi tulisan dalam bahasa Indonesia. Mungkin karena letaknya yang dekat dengan Kyoto Prefectural University of Medicine.

Mungkin Bunga Sakura

Usai menunaikan sholat Jum’at, kami sempat kepikiran untuk mencari makanan halal di sekitar masjid. Tapi ternyata hanya nemu satu restoran India, dan itu pun lumayan mahal harganya. Daripada buang-buang duit, akhirnya seperti biasa beli roti dan onigiri di Lawson yang ada di pelataran University of Medicine, sebelum lanjut ke Kyoto Station via bus. Itinerary di Kyoto ditutup dengan perjalanan naik kereta JR menuju Osaka dengan ongkos ¥560.

Berikut rincian pengeluaran selama hari ke-3 di Kyoto, di luar makan dan belanja pribadi.

Kegiatan Biaya
Naik bus ke Nijo Castle -
Keliling Nijo Castle -
Naik bus ke Kyoto Imperial Palace -
Keliling halaman Imperial Palace (tidak masuk) -
Jum'atan di イスラーム文化センター Mosque -
Naik bus ke Kyoto Station -
Naik kereta JR ke Osaka ¥560
Total Pengeluaran ¥560

Dari pengalaman berjalan-jalan selama 3 hari di Kyoto, penggunaan kartu Sightseeing Pass saya rasa tidak terlalu signifikan. Hanya selisih sedikit saja. Ini dikarenakan obyek wisata yang kebanyakan berupa kuil dengan halaman yang luas, yang butuh waktu tidak sebentar untuk dieksplor. Sehingga, dalam sehari kita tidak perlu banyak berpindah tempat dengan menggunakan bus maupun kereta. Bahkan rasanya akan jauh lebih hemat apabila berkeliling menggunakan sepeda yang berbandrol sewa ¥500 / hari saja.

Oh ya, total pengeluaran saya selama 3 hari 2 malam di Kyoto adalah ¥10,350 + ¥1,000 + ¥560 = ¥11,910 atau sekitar Rp 1.405.380,- dengan kurs 1 Yen = Rp 118. Tidak terlalu mahal dan bisa lebih ditekan lagi apabila tidak menggunakan kartu pass dan bisa mendapatkan penginapan yang lebih terjangkau.

Tema artikel yang berhubungan: ,