Tidak salah jika Bali terpilih menjadi pulau terindah kedua di dunia (setelah Kepulauan Galapagos, Ekuador). Dengan sekian banyak obyek wisata yang bisa menjadi pilihan untuk masuk ke dalam itinerary kita, pulau Dewata ternyata masih menyimpan banyak surga alam yang seolah menanti giliran untuk terekspos ke dunia luar. Salah satu daerah yang kini mulai eksis adalah Gianyar, dengan dua obyek andalan yang sudah mulai naik daun, Air Terjun Tegenungan dan Hidden Canyon Guwang. Kita bahas woterpol-nya dulu, yuk.



Terletak di desa Kemunuh, kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar, yang berjarak sekitar 33 km dari Kuta atau 23 km dari pusat kota Denpasar, tidak butuh waktu lama untuk menuju obyek wisata air terjun Tegenungan yang sudah mulai go publik sejak 2 tahun lalu. Yang sedikit membingungkan mungkin adalah rutenya, yang meskipun dapat diakses melalui jalan utama dan jalan pedesaan, namun tidak terdapat rambu atau papan petunjuk arah yang memadai. Sebaiknya keluarkan ilmu membaca peta Google Maps atau bertanya pada penduduk sekitar, terutama setelah melewati pasar Sukawati.

Tim TreplingXYZ sendiri pertama kali berkunjung ke air terjun ini dengan tuntunan guide Hidden Canyon Guwang, yang menawarkan panduan untuk menuju ke sana. Sehingga tidak menemukan masalah yang berarti ketika datang lagi untuk kedua kalinya (yang pertama hanya sekedar nonton dari atas dan tidak turun ke bawah) meski tanpa navigator lokal.

Berjalan sedikit dari area parkir (gratis untuk motor, entah untuk mobil) dan membayar tiket sebesar Rp 10.000,- / orang di loket masuk, kita sudah bisa melihat penampakan air terjun Kemunuh (nama lain dari air terjun Tegenungan) dari kejauhan. Tampak megah dan menawan! Tersedia area untuk menikmati keindahannya dari atas jika kita tidak ingin menuruni tangga yang katanya berjumlah ratusan (rasanya sih hanya seratusan). Jika ahli pasang muka badak, bisa juga nyelonong masuk ke kafe-kafe yang ada dan numpang selfie berlatar belakang air terjun di sana. Bule-bule sih pada cuek aja ngelakuin itu, hehehe.

Tampak dari kejauhan

Tampak dari kejauhan

Tapi TreplingLopers, sebenarnya, jika ingin mengikuti tata krama timur yang lebih sopan, kita bisa sekalian memesan kelapa muda dingin di salah satu kafe. Paling pas sih setelah berjuang kembali menaiki anak tangga yang ada. Harga untuk wisatawan lokal cukup terjangkau kok, hanya Rp 20.000,- per butir. Berbeda dengan harga untuk wisatawan asing, yang dari hasil pengupingan kami dipatok $10 per butir.

Dalam perjalanan menuruni anak tangga menuju air terjun, kita bakal melewati Pura Tirta Merta Jiwa dan pancuran-pancuran air untuk membasuh atau membersihkan badan. Selanjutnya, sambil menyusuri sungai, ada sebuah kafe yang sepertinya banyak dimanfaatkan oleh turis untuk menitipkan barang bawaan mereka. Wajar karena ternyata debit air cukup deras meski ketinggian air terjun hanya sekitar 4 meter. Saking derasnya, posisi berdiri di luar air pun tetap bakal basah terkena cipratan air.

Yang jelas, airnya jernih dan dingin. Sueger, rek!

Airnyaaaaa :o

Airnyaaaaa 😮

Karena destinasi wisata alam ini sudah cukup mainstream, jangan kaget jika TreplingLopers banyak menemui bule berbikini (atau ber-boxer-ria untuk yang cowok) di sini. Pemandangannya gak kalah hot dengan di pantai, hehehe. Yang menarik, juga ada pemuda yang bertugas sebagai penjaga pantai air terjun. Mungkin karena debit air yang bisa tiba-tiba meningkat. Kerjanya adalah mencegah orang-orang untuk berenang atau bermain air di bagian tertentu.

Salah satu yang tidak bisa didatangi sembarangan adalah tebing kecil yang ada di samping air terjun. Pada saat kunjungan perdana kami sebelumnya, terlihat tempat tersebut boleh dinaiki. Tapi ketika kami datang untuk kedua kalinya, si penjaga mencegah orang-orang untuk mendekatinya. Padahal tempatnya super duper keren untuk dijadiin latar foto selfie #anaksosmed

Hal menarik lainnya adalah adanya Air Suci atau Holy Water di dekat air terjun. Entah apa fungsinya. Mungkin digunakan pada saat upacara adat penduduk setempat.

Belum coba minum

Belum coba minum

Kabarnya dulu di tempat ini juga diselenggarakan aktivitas bungee jumping. Mungkin karena, sekali lagi, debit air yang tidak bisa diprediksi, akhirnya sudah tidak tersedia lagi. Padahal asik juga keliatannya buat dicoba, secara tidak terlalu tinggi tempatnya, hehehe. Oh ya, sempat ada juga beberapa orang yang melakukan start rafting di dekat air terjun Tegenungan. Sepertinya juga seru. Sayang di lokasi kami tidak menemukan informasi sama sekali mengenai aktivitas rafting tersebut.

Sebagai salah satu destinasi andalan kabupaten Gianyar, Bali, air terjun Tegenungan pantas untuk dikunjungi. Jangan kalah dengan orang luar, karena untuk saat ini sepertinya persentase wisatawan asing yang datang ke lokasi ini masih lebih banyak ketimbang wisatawan lokal. Apalagi, infrastruktur pariwisata di sini sudah cukup memadai. Mulai dari toko oleh-oleh, kafe / rumah makan, toilet, serta area parkir yang cukup. Masa kita jadi minoritas di negeri sendiri? Jangan sampai deh 🙂

Tips Trepling

Bagi TreplingLopers yang berniat untuk bepergian ke Air Terjun Tegenungan, berikut ini tips dan trik dari TreplingXYZ:

  • Tidak ada papan petunjuk arah yang menuju ke sana. Gunakan peta Google Maps atau GPS (penduduk setempat).
  • Meski tidak terlalu tinggi, tapi debit air cukup deras. Jika ingin berfoto dekat air terjun sebaiknya berganti pakaian yang lebih cocok sebelum turun ke bawah.
  • Ada tebing setinggi 2 meter di samping air terjun yang instagramable. Sayangnya, apabila arus air terjun deras, kita tidak diperbolehkan untuk naik ke sana (ada jalan setapak yang bisa diakses setelah menyeberangi sungai, plus ada penjaganya).
  • Area di bawah tebing yang disebutkan di atas agak dalam. Idem dengan di atas, di waktu-waktu tertentu tidak diperbolehkan untuk berenang atau bermain air di sana.
  • Jumlah tangga untuk menuju lokasi tidak terlalu banyak tapi ‘struktur’nya tidak terlalu kompatibel dengan kaki orang Indonesia (terlalu lebar dan tinggi). Bakal super capek pada saat mendaki ke atas untuk kembali ke area parkir.
  • Jangan takut untuk memesan sebutir kelapa dingin karena harga untuk turis lokal dan turis luar berbeda. Jadi jangan bergaya sok bule ya jika nggak mau dipukul harga bule, hehehe.
  • Tidak jauh dari Tegenungan juga ada air terjun lain yang tidak kalah menariknya, Kanto Lampo. Hanya berjarak kurang lebih 9km. Posisinya di dalam sebuah perkampungan sehingga akses jalan cukup mudah. Jangan dilewatkan untuk sekalian mampir ke sana.

Info Detil dan Peta Lokasi

Nama: Tegenungan Waterfall / Air Terjun Tegenungan / Air Terjun Kemunuh
Alamat: Bedulu, Blahbatuh, Bedulu, Gianyar, Kabupaten Gianyar, Blahbatuh, Bali
Parkir: Gratis
Tiket Masuk: Rp 10.000,-

Petunjuk rute: Tidak ada papan petunjuk arah yang menuju destinasi ini. Gunakan peta Google Maps (sudah akurat) atau bertanya pada penduduk setempat. Yang jelas, jika berangkat dari arah Denpasar, langsung saja menuju pasar Sukawati. Setelah itu, belok kanan di sebuah pertigaan (pastikan titik beloknya di peta), belok kiri di pertigaan pertama, lalu belok kanan kembali di pertigaan pertama, selanjutnya tinggal ikuti jalan tersebut hingga sampai di tujuan. Di dekat TKP akan ada pertigaan lagi, tapi yang ini sudah ada pos penjaganya, sehingga tidak mungkin terlewat.

Galeri Foto

Tema artikel yang berhubungan: ,