Saya pertama kali mendengar nama Hachiko dari film “Hachi: A Dog’s Tale” yang dibintangi oleh Richard Gere. Film yang diadaptasi dari kisah nyata tersebut bercerita tentang seekor anak anjing yang secara tidak sengaja diketemukan oleh Professor Parker Wilson (diperankan oleh Richard Gere). Karena tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya, Parker memutuskan untuk membawanya pulang dan memeliharanya. Dari kalung yang ada di lehernya, diketahui nama anak anjing tersebut adalah Hachi. Meski jarang mau melakukan apa yang biasa dilakukan oleh anjing pada umumnya, Hachi ternyata adalah sosok anjing yang setia dan loyal, terutama pada Parker. Ia seringkali mengantarkan Parker ke stasiun kereta untuk pergi ke tempat kerjanya, lantas menjemputnya di sana saat Parker pulang kembali. Suatu saat, musibah terjadi pada Parker dan ia tidak kembali lagi. Pun begitu, Hachi tetap keukeuh menunggu, bertahun-tahun di tempat yang sama, hingga akhir usianya.



Kisah asli anjing Hachi ini terjadi di stasiun Shibuya, Tokyo. Sedangkan profesor yang menjadi majikannya adalah Profesor Hidesaburō Ueno, dosen di jurusan Ilmu Pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo (sekarang Universitas Tokyo). Tambahan nama “-kō” sendiri diberikan oleh orang-orang di sana setelah mereka mengetahui latar cerita kesetiaan Hachikō terhadap majikannya, beberapa tahun setelah Profesor Ueno meninggal.

Patung Hachikō yang tersohor di depan stasiun Shibuya dibuat oleh Teru Andō. Ia melakukannya tanpa pamrih karena tersentuh dengan kisah Hachikō. Setelah berhasil mengumpulkan dana dari publik untuk mendirikan patung perunggu tersebut, akhirnya pada bulan April 1934 patung tersebut diresmikan dengan disaksikan sendiri oleh Hachikō dan 300 orang hadirin.

Fun Fact: Patung yang saat ini ada di depan stasiun Shibuya sebenarnya adalah patung pengganti yang dibuat oleh Takeshi Andō, putra Teru Andō, pada tahun 1948. Patung Hachikō yang asli telah dilebur untuk keperluan Perang Dunia II pada tahun 1944 silam.

Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 8 Maret 1935, Hachikō ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dekat Jembatan Inari, sungai Shibuya. Dari hasil otopsi, diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis, semacam penyakit kaki gajah. Ia kemudian dimakamkan di samping makam profesor Ueno di Aoyama Cemetery, tempat yang sebenarnya sangat ingin saya datangi pada saat berjalan-jalan di sekitaran Shibuya, namun malah kelupaan 🙁

Patung Hachiko di Stasiun Shibuya

Fun Fact: Replika patung Hachikō seperti yang ada di Shibuya juga ada di depan stasiun Odate yang merupakan kota kelahiran Hachikō. Patung tersebut didirikan beberapa bulan setelah kematian Hachiko.

Tidak sulit untuk menemukan patung Hachikō karena terletak persis di depan pintu keluar stasiun Shibuya. Yang mungkin belum banyak diketahui, selain di stasiun Shibuya dan stasiun Odate, patung Hachikō juga dapat diketemukan di pelataran Yayoi Campus, Universitas Tokyo. Uniknya, dalam patung ini digambarkan pertemuan kembali anjing putih tersebut dengan profesor Ueno setelah sekian lama menunggu. A happy ending alternative story. Sayangnya, saat saya berkunjung ke sana, area sekitar patung tersebut sedang direnovasi, sehingga terlihat kurang cantik.

Patung Hachikō dan Profesor Ueno di Tokyo University

Untuk bisa menuju ke patung Hachikō dan Profesor Ueno, kita bisa turun di stasiun Todai-Mae yang ada tepat di samping Universitas Tokyo. Atau berjalan sehat dari Ueno Park sekitar kurang lebih 1.5 km. Silahkan gunakan peta di bawah ini sebagai referensi rutenya.

Meski sudah lama tiada, namun kisah anjing Hachikō hingga sekarang tidak pernah padam. Bahkan ia telah menjelma sebagai salah ikon Shibuya, yang mana patungnya menjadi salah satu destinasi selfie wajib setiap wisatawan manca negara yang berkunjung ke Jepang. Jadi jangan bete kalau butuh waktu lama untuk antri berfoto selfie di sana. Mohon bersabar, itu ujian.

Tema artikel yang berhubungan: ,