TreplingLopers, cerita ini sebenarnya bagian dari perjalanan backpacking saya menjelajah Indochina selama 2 minggu pada tahun 2015 lalu. Itinerary lengkapnya juga sudah pernah saya tuangkan di blog sebelah. Tapi karena ada salah satu pembaca di sana yang meminta untuk dituliskan kembali, maka here we go, versi modifikasi yang lebih ideal dari itinerary 6 hari 5 malam menjelajahi negara Kamboja (kota Siem Reap dan Phnom Penh) dan Vietnam (kota Saigon / Ho Chi Minh City saja) ala backpacker. Cekidot!



Hari Ke-1

Tiba di Siem Reap dan check-in hotel. Hotel yang dulu saya tempati di jalan Steung Thmei ternyata sudah berganti nama menjadi Traveller Home Angkor. Ini hotel berbintang empat dengan harga menginap per malam hanya dua ratus ribuan! Pelayanannya waktu itu cukup memuaskan, mungkin terbaik dari yang pernah saya rasakan selama ini, mengalahkan layanan beberapa hotel berbintang lima di Surabaya. Jika tidak ingin menginap di hotel tersebut, saya tetap menyarankan untuk mencari penginapan di daerah yang sama karena titik-titik strategis berada di jangkauan walking distance. Sebut saja Muslim Family Kitchen Restaurant (kuliner halal), masjid (di seberang restoran, saya lupa namanya, pengurus masjid ramah dan lancar berbahasa melayu), Night Market, Pub Street, agen-agen travel untuk memesan bus ke Phnom Penh, hingga bioskop di ujung gang!

Jika masih sempat, kunjungi Angkor National Museum (di pusat kota) dan Cambodia Landmine Museum (sekitar 25 km dari pusat kota). Atau jika ingin yang anti-mainstream, tonton pertunjukan sirkus Phare yang ternama, dimana mereka mampu menggabungkan unsur atraksi hiburan dengan elemen cerita. Selanjutnya habiskan sisa malam dengan mengelilingi Night Market dan Pub Street. Untuk makan malam, opsi populer adalah di Khmer Kitchen Restaurant (resto favorit Mick Jagger!) dan Cambodian BBQ (yang ini agak sulit cari yang asli karena KW-nya bertebaran, saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apakah restoran Cambodian BBQ yang saya datangi waktu itu yang asli atau palsu, hehehe). Oh ya, jangan lupa untuk memesan tuk-tuk untuk mengantarkan berkeliling Angkor Wat esok harinya serta memesan tiket bus untuk menuju Phnom Penh.

Suasana Pub Street di malam hari

Hari Ke-2

Bangun sepagi mungkin dan berangkat menuju Angkor Wat. Jika ingin memotret keindahan Angkor Wat di saat sunrise, usahan berangkat sebelum jam 5 agar bisa mendapatkan posisi strategis di dekat danau kecil yang ada di depan Angkor Wat. Untuk tiket masuknya sendiri saat ini baru saja mengalami kenaikan harga, dari yang sebelumnya $20 untuk satu hari menjadi $37. Lumayan mehong, ya 🙁

Siluet Angkor Wat saat sunrise

Berikut tabel biaya tiket masuk Angkor Wat selengkapnya.

Durasi Harga Lama Harga Baru
1 hari $20 $37
3 hari $40 $62
7 hari $60 $72

Meski doyan mengeksplor relief-relief candi, durasi 1 hari menurut saya sudah cukup untuk menjelajah area Angkor Wat. Sopir tuk-tuk biasanya akan menawarkan / menunjukkan area-area mana yang banyak diminati turis, juga spot-spot yang strategis untuk berfoto selfie. Yang perlu diperhatikan, saat break makan siang, seringkali mereka membawa kita ke restoran-restoran tourist trap yang harganya sudah di-mark-up sedemikian rupa. Siap-siap saja atau berdoa agar mendapat sopir tuk-tuk yang jujur, baik hati, dan tidak sombong 😀

Kembali ke hotel untuk check-out dan / atau mengambil barang. Hotel yang saya sebutkan sebelumnya memperbolehkan saya untuk mandi meski saat itu saya sudah check-out pagi harinya dan hanya sekedar datang untuk mengambil ransel. Hebat, kan servisnya? Saya bahkan dipinjami handuk untuk mandi loh!

Jika punya waktu satu hari ekstra, kunjungi floating village atau kampung terapung di Chong Kneas, hanya berjarak 11 km dari Siem Reap. Sayangnya sudah agak touristy dan biaya naik perahu motor untuk menuju ke kampung tersebut dari pinggir danau Tonle Sap dibandrol seharga $20 per orang.

Bus malam yang menuju Phnom Penh rata-rata berangkat pukul 10 malam. Saya menggunakan jasa bus Giant Ibis dengan biaya $16, bisa dipesan secara online. Gunakan waktu untuk menunggu keberangkatan dengan berjalan-jalan di sekitar agen travel. Banyak jajanan khas pinggir jalan di sana. Tidak ketinggalan yang ekstrim-ekstrim seperti serangga goreng 🙂


Klook.com

(function(d, sc, u) { var s = d.createElement(sc), p = d.getElementsByTagName(sc)[0]; s.type = ‘text/javascript’; s.async = true; s.src = u; p.parentNode.insertBefore(s,p); })(document, ‘script’, ‘//cdn.klook.com/affiliate/s/widgets_v4/js/affiliate_base_v2.js’);

Hari Ke-3

Tiba di Phnom Penh pada pagi hari. Sebaiknya sekalian memesan tiket bus menuju Ho Chi Minh City jika belum melakukannya. Jika menggunakan Giant Ibis, tarifnya adalah $19. ‘Terminal’ bus Giant Ibis (dan bus-bus lainnya) ada di samping Phnom Penh Night Market yang apesnya sedang tutup selama saya berada di sana. Karena bus menuju Ho Chi Minh City berangkat pagi, pilih penginapan di sekitar area tersebut, agar tidak repot.

Yang termasuk layanan dari Giant Ibis adalah tuk-tuk gratis menuju hotel tempat kita menginap. Sebagai gantinya, sopir tuk-tuk akan berusaha merayu kita untuk mengambil jasa ‘tour’ mereka mengelilingi obyek-obyek wisata di Phnom Penh. Paketnya adalah Royal Palace, National Museum (tepat di seberang Royal Palace), Killing Fields, dan Tuol Sleng Genocide Museum. Silahkan ditawar (kurang lebih $15-$20) dan berdoa juga untuk mendapat jatah sopir yang mahir berbahasa Inggris. Jika oke, kita nanti akan dijemput kembali di hotel sekitar pukul 08.00 atau sesuai perjanjian. Karena jaraknya lumayan jauh, sebaiknya memang berangkat tidak terlalu siang (toh belum bisa check-in hotel juga, kan?) agar tidak terjebak macet.

Tumpukan tengkorak bukti kekejaman rezim Khmer Rouge di Killing Fields of Choeung Ek

Hotel yang saya tempati waktu itu adalah Sundance Riverside Guest House (sekitar 250 ribu per malam, tapi waktu itu ada promo cuma 100 ribu saja!). Asal saja sebenarnya waktu memesan, yang penting dekat dengan titik keberangkatan bus ke Ho Chi Minh City. Tapi ternyata letaknya cukup strategis. Hanya 20 meter di sebelah ada KFC (yang sudah pasti halal) dan di seberangnya ada Gloria Coffee serta Tourist Boat Dock, tur kapal menyusuri sungai Mekong.

Saya sendiri memilih untuk meng-custom paket keliling yang ditawarkan oleh si sopir tuk-tuk yang apesnya tidak mahir berbahasa Inggris. Royal Palace dan National Museum saya skip, sebagai gantinya saya minta diantarkan ke Warung Bali, tidak jauh dari Royal Palace. Tujuan awalnya sebenarnya adalah Restoran Sumatra, rumah makan bercita rasa Padang di Phnom Penh. Sayang pada hari saya berada di sana ternyata jadwal rumah makan ini tutup.

Usai berjalan-jalan dan beristirahat sejenak di hotel, sore hari kita bisa mengikuti tur kapal di Tourist Boat Dock untuk menikmati sunset di sungai Mekong. Setelah itu, habiskan sisa malam dengan berkeliling area sekitar, syukur-syukur jika Night Market dalam keadaan beroperasi.

Sungai Mekong saat senja

Hari Ke-4

Check-out hotel dan berangkat menuju Ho Chi Minh City. Tiba di sana sekitar pukul 3 sore, tergantung bus yang dipakai. Hindari tawaran ojek motor yang sudah merangsek di depan pintu bus karena hampir semuanya tipu-tipu. Jangan khawatir, lokasi pemberhentian bus ada di dekat area backpacker kok. Jika mencari penginapan di daerah tersebut, cukup berjalan kaki untuk menuju hotel tanpa perlu naik ojek.

Dalam perjalanan menuju hotel, kita akan melewati agen-agen travel. Obyek-obyek wisata di sekitar kota ini hampir semuanya hanya bisa dicapai melalui bus wisata (tidak ada transport publik menuju ke sana) sehingga sebaiknya sekaligus lakukan pemesanan paket tour. Rata-rata biayanya cukup murah kok, seratus ribuan saja untuk paket tour setengah hari. Waktu itu saya memesan dua paket tour sekaligus, yaitu tur Cu Chi Tunnel dan Mekong River Delta Tour. Total biaya dengan kurs saat itu hanya Rp 210.000,- saja. Murah, kan? Kita sebenarnya juga bisa melakukan pemesanan paket tour di hotel karena hampir semua hotel di Phnom Penh menyediakan layanan tersebut. Tapi tentu saja harganya sudah dinaikkan.


Klook.com

Hotel tempat saya menginap selama di kota Saigon adalah Hong Kong Kaiteki Hotel (kurang dari dua ratus ribu untuk kamar kapsul) dan City Hotel. Yang disebut pertama sengaja saya pilih karena dekat dengan terminal bus Giant Ibis, hanya sekitar 200 meter saja. Hari kedua baru saya berpindah ke tempat yang lebih strategis lagi, di dekat pasar Ben Thanh.

Setelah check-in dan beristirahat, habiskan sisa hari dengan berjalan kaki mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang untungnya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Ada Notre Dame Cathedral, Central Post Office, Diamond Plaza (mall yang bangunannya cukup megah, tonton dari luar aja, gak usah masuk), Rex Hotel, dan The Independence Palace. Mampir juga ke Ben Thanh Market dan pasar malam di sekitarnya (buka setelah pasar Ben Thanh tutup). Banyak penjual yang bisa berbahasa Indonesia / Melayu loh.

Atraksi anti-mainstream di pusat kota adalah The Golden Dragon Water Puppet Theater. Ini keren banget. Saya menyesal sekali tidak bisa menontonnya karena jadwal yang bentrok.

Untuk kuliner halal tidak perlu bingung. Banyak sekali restoran halal di dekat pasar Ben Thanh. Jangan lupa untuk mencoba sup Pho yang tersohor. Untuk rekan-rekan yang muslim, sebaiknya hindari membeli Pho di pinggir jalan, ya. Tidak hanya menyajikan daging babi, namun penyimpanan daging babinya biasanya juga dicampur begitu saja dengan daging ayam.

Hari Ke-5

Check-out hotel dan mengikuti tur Cu Chi Tunnel. Sudah tepat memang memilih paket tur setengah hari karena yang membedakan dengan paket tur 1 hari di tempat ini hanyalah jumlah gua bawah tanah yang ditunjukkan dan diperbolehkan untuk masuk saja. Jangan lewatkan untuk mencoba masuk ke lubang persembunyian yang ukurannya ngepas dengan badan kita.

Tempat persembunyian dalam tanah

Pulang tur dan check-in di City Hotel, silahkan lanjut mengeksplor kembali area sekitar pusat kota dan pasar. Saya beruntung pada saat saya berada di sana bertepatan dengan hari jadi kota Ho Chi Minh City!

Meriahnya perayaan hari jadi kota Ho Chi Minh

Hari Ke-6

Check-out hotel dan mengikuti tur Mekong River Delta Tour. Meski sempat mampir ke beberapa tempat tourist trap, tapi sensasi mengarungi sungai Mekong yang sempit dengan menggunakan semacam kano tidak bakal terlupakan. Hindari duduk di dekat pengayuh sampan karena pada saat turun bakal dipalak uang tips 🙁

Seru menyusuri sungai Mekong dengan sampan

Balik kembali ke kota Ho Chi Minh City, makan siang (jika sempat), dan lanjut menuju Bandar Udara Internasional Tân Sơn Nhất untuk perjalanan pulang ke Indonesia. Ada bus dari pusat kota menuju ke sana. Tapi jika khawatir tidak keburu, gunakan saja taksi. Pilih taksi Vinasun atau Mailinh yang sudah banyak direkomendasikan karena bebas scam. Waktu itu saya menggunakan taksi Mailinh dan memang terbukti lancar jaya tanpa dibawa berputar-putar (saya cek dengan menggunakan Google Maps).


Demikian itinerary traveling ala backpacker di negara Kamboja dan Vietnam selama 6 hari. Ada sedikit bagian yang sudah saya ubah dari versi itinerary asli saya pada saat itu agar semata lebih efektif. Untuk pilihan tur selama di Ho Chi Minh City juga bisa disesuaikan sendiri dengan minat masing-masing. Saya sendiri merasa waktu dua hari di kota tersebut masih kurang, karena masih ada satu lagi paket tur yang sebenarnya ingin saya ambil… tur menjelajahi Mui Ne.

Tema artikel yang berhubungan: ,  KELEBIHAN DAN KEKURANGAN FILM AADC 2.